Re: [wanita-muslimah] FW: Istriku seorang Auditor

Muhammad Aly
Thu, 03 Apr 2008 13:37:02 -0700

smp di rumah juga pasti istrinya bw kerjaan nya tuh
minta ditemani suami lembur atau ngasih order.. ayo
mas bantu hitung paper2 ini... weleh3... ampun dech
he3...
--- Lina Dahlan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> _____
> 
> From:
> Sent:
> To:
> Subject: Istriku seorang Auditor
> Saya menikahi wanita yang memiliki karir
> profesional: AKUNTAN PUBLIK.
> Ya, dia adalah seorang auditor. Dan coba tebak apa
> yang dilakukannya
> ....
> 
> 1. Dia menyuruhku untuk menggunakan metode LIFO saat
> mengambil 
> makanan yang disimpan di kulkas. Aduh ...
> 
> 2. Dia menganggapku tidak berbakat dalam bermain
> dengan angka. Aku 
> sih no problem, makanya dia yang mengurus anggaran
> rumah tangga. Eh, 
> tiap
> akhir bulan dia bikin invoice tagihan profesional
> fee sama aku. Waktu
> kubilang kalau aku ini suaminya, bukan kliennya, dia
> malah minta 
> advance payment.
> 
> 3. Aku heran kenapa pengeluaran terus meningkat
> steadily, sehingga 
> suatu hari, aku mengintip kertas-kertas yang ada di
> ordner 
> berlabel "Current File". Tak heran! Dia rupanya men
> charge mileage 
> (jarak) dan overtime ke dalam anggaran rumah tangga.
> Dia juga 
> menagihkan Out of Pocket Expense ke dalamnya. Dia
> gila, dan aku udah 
> bilang itu ke dia. Eh, dia malah bilang, "Ya
> enggaklah sayang, aku 
> kan auditor ..."
> 
> 4. Setiap lembar kertas di rumah dicopy dan
> difilekan. Alasan dia, 
> ada peraturan yang mengharuskan dia memaintain copy
> hasil kerjanya 
> selama 10 tahun. Aku sungguh-sungguh khawatir ...
> 
> 5. Dia bilang kalau dia cinta aku, dan aku bilang
> kalau aku cinta dia
> juga. Tapi tetap aja, dia tidak pernah percaya.
> Katanya, ada 
> kemungkinan terjadi mis-statement. Dan dia memintaku
> membuat 
> Representation Letter mengenai masalah ini ... Duhhh
> 
> 6. Tahun lalu laporan keuangan rumah kami
> mendapatkan opini Qualified
> karena aku gak menyimpan supporting document atas
> expensesku.
> 
> 7. Awalnya aku heran, kenapa setiap akhir tahun
> selalu berdatangan
> surat-surat dari seluruh famili, kolega, termasuk
> warung di depan 
> rumah. Ternyata, istriku mengirimi Confirmation
> Letter kepada mereka 
> semua. Waktu aku protes, dia bilang, konfirmasi dari
> pihak eksternal 
> lebih realible.
> Cape deh ....
> 
> 8. Waktu istriku masak, dia sering tidak mengikuti
> resep. Bila resep
> bilang, tambahkan setengah sendok garam, atau satu
> sendok teh gula, 
> atau setengah gelas air, dia selalu tidak peduli.
> Dia bilang kalau 
> itu tidak material bila dibandingkan dengan seluruh
> menu yang 
> disiapkan.
> 
> 9. Aku bilang, dia itu gila. Tapi anehnya, semua
> orang bilang kalau 
> dia auditor. Di kamus, ternyata kata "auditor" bukan
> sinonim untuk 
> kata "gila". Pasti kamusnya ketinggalan zaman.
> 
> 10. Waktu kami menikah, dia memberikan Engagement
> Letter padaku. 
> Awalnya aku bilang, "Oh, makasih ya sayang ..."
> Ternyata setiap 
> tahun dia memberikan surat yang sama. Katanya,
> standarnya 
> mengharuskan dia melakukan itu bila ada indikasi
> kalau aku keliru 
> memahami tujuan dan scope dari Engagement.
> Dia juga bilang, aku tidak bisa pisah dari dia
> begitu saja. Dia punya
> hak untuk didengar sebelum aku menunjuk orang lain.
> Dan dia juga
> menegaskan bila aku menunjuk orang lain menggantikan
> dia, maka harus 
> ada komunikasi antara dia dan penggantinya, agar dia
> bisa 
> menyampaikan keberatan profesionalnya. Mati kita ...
> 
> 11. Phew ... Kadang kala, aku berpikir, kalau dia
> membahayakan going
> concernnya pernikahan ini. Duh ... Kok aku jadi
> kebawa-bawa dia ...
> 
> 12. Ku kira pernikahanku ini sudah cukup gila, tapi
> ternyata ada 
> temanku yang juga kawin dengan akuntan, punya cerita
> yang lebih 
> parah. Istrinya mengkapitalisasi biaya pernikahan
> sebagai 
> Preliminary Expenses, dan mengamortisasinya setiap
> tahun. Biaya-
> biaya yang dikeluarkan sebelum berumah tangga, juga
> dikapitalisasi 
> sebagai biaya pra-pernikahan. Juga, waktu yang
> dihabiskannya selama 
> pacaran sebelum menikah sedang dalam proses valuasi,
> untuk 
> dimasukkan sebagai intangible assets.
> 
> Teman-teman, berpikirlah dua kali sebelum menikahi
> auditor. Kalau kau
> sudah berpikir dua kali dan tetap memutuskan untuk
> menikahinya, 
> pikirkan dua kali lagi. Kau harus mempertimbangkan
> besar risk 
> sebelum memulai engagement.
> 
> Duh .... Aku ternyata sudah gila.
> Aku, seorang auditee seumur hidup.
> 
> Rudyanto
> Jakarta
> Indonesia
SUMBER:

http://209.85.175.104/search?q=cache:rKxoC65ebc8J:www.mail-archive.com/wanita-muslimah%40yahoogroups.com/msg44327.html+opini+qualified&hl=id&ct=clnk&cd=9&gl=id