Suatu hari seorang anak perempuan, sebut saja Bunga, duduk termenung di kamarnya. Bunga merasa penuh sesak. Perutnya penuh, pikirannya penuh, hatinya juga penuh. Meskipun begitu, Bunga tetap saja tidak bisa menangis. Air matanya tidak keluar sedikitpun.

Hari berikutnya, sehabis kuliah pagi, Bunga tampak memasuki kamarnya dengan lesu. Sinar matanya lesu, rona wajahnya lesu, jiwanya pun juga lesu. Namun demikian, Bunga tetap tidak dapat menangis.

Suatu hari di bulan November, ketika cuaca sedang panas-panasnya, Bunga mengendarai sepeda motornya di sekitar jalan Jenderal Sudirman. Sesungguhnya saat itu Bunga ingin sekali menancap gas motornya dengan kencang. Superr duperr kencangg malah. Tapi apa daya Bunga bukan saingannya Valentino Rossi. Akhirnya Bunga hanya bisa berangan-angan ngebut di jalan. Whuz, whuzzz, whuzzz sambil meliuk-liukkan badan.

Bunga berpikir,”Alangkah baiknya jika aku bisa melesat dengan kecepatan tinggi, melupakan segala hal di sekitarku untuk sejenak…”

Sekembalinya dari jalan, Bunga duduk di kasur kamarnya. Perasaannya saat ini sedang tidak baik, gundah gulana tak berujung. Bunga merenungkan kehidupannya selama ini. Sangat banyak yang pantas disyukuri. Namun, Bunga tidak mampu mengucapkan kata “syukur…” dengan setulus hati. Barangkali karena hatinya sedang sangat pedih.

Yang mampu dilihat Bunga adalah sebuah bantal di kamarnya. “Andaikan aku adalah bantal,” ujar Bunga lemah, “aku tidak akan merasa sakit seperti ini.”

Ini adalah kalimat aneh yang sangat sering diucapkan oleh orang-orang yang sedang sedih dan bingung seperti Bunga. Saat merasakan duka yang mendalam, ada sebagian orang yang tidak mampu mengungkapkannya. Tidak bisa menangis, tidak bisa berucap, hanya mampu merenung di kamar sambil menatap bantal.

Be Strong Bunga…. You’ll get your time…. Amen